Orang Medan Punya Cerita
Indeks
banner 728x250

Disebut Bunuh Diri, Keluarga Eks Istri Polisi Ungkap Rentetan Kejanggalan: Luka di Tubuh hingga Jenazah Didesak Segera Dimakamkan

banner 468x60

MEDAN – Kematian Winda Lorenza Gowasa (WLG), mantan istri Brigadir IH, yang disebut meninggal akibat bunuh diri dengan senjata api, menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga.

Alih-alih menerima begitu saja dugaan bunuh diri tersebut, keluarga WLG justru membeberkan sejumlah kondisi yang menurut mereka janggal. Mulai dari luka pada bagian kepala dan wajah, perubahan warna pada sejumlah bagian tubuh, larangan mengambil foto maupun video, hingga desakan agar jenazah segera dimakamkan.

banner 325x300

Winda ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah di Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Minggu (2/8/2026).

Adik kandung WLG, Ica (29), mengaku pertama kali mengetahui kabar tersebut pada Minggu siang melalui sambungan telepon yang melibatkan Brigadir IH dan ayahnya.

Menurut Ica, percakapan itu diawali dengan permintaan agar dirinya tetap tenang dan memikirkan keselamatan kedua anak WLG.

“Dek, kamu tenang. Tenang kenapa Bang? Kamu berpikir jernih, kita selamatkan anak-anak dua-dua.”

Dalam percakapan tersebut, Ica kemudian diberitahu bahwa kakaknya telah meninggal dunia.

“Kakakmu sudah tidak ada lagi. Sudah diambilnya pistol itulah yang terjadi. Dia udah pergi meninggalkan kita selamanya.”

Saat menerima kabar itu, Ica masih berada di Nias. Karena penerbangan terakhir telah tutup, ia baru dapat berangkat ke Medan keesokan harinya.

Temukan Luka di Kepala dan Memar pada Mata

Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah Ica melihat langsung kondisi jenazah WLG di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Ia mengaku menemukan luka di bagian kepala yang telah dijahit. Ketika keluarga mempertanyakan luka tersebut, mereka disebut mendapat penjelasan bahwa bagian itu berkaitan dengan tindakan penyuntikan.

Namun penjelasan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru bagi keluarga.

“Kalau disuntikkan kenapa lukanya besar dan harus dijahit? Suntikan apa, obat apa yang dimasukkan ke dalam?”

Ica juga mengaku melihat kondisi mata kakaknya yang tampak memar.

Bukan hanya itu. Saat proses memandikan jenazah, keluarga juga melihat perubahan warna pada sejumlah bagian tubuh WLG.

Menurut Ica, petugas yang memandikan jenazah menyebut warna kebiruan tersebut berkaitan dengan proses pembusukan. Namun keluarga mempertanyakan penjelasan itu karena warna kebiruan disebut tidak merata.

“Di bagian pahanya biru-biru. Terus di lututnya ada bekas goresan, di bagian punggung kaki dan jari-jari, meskipun tidak merata. Ada yang biru, ada yang tidak biru.”

Bagi keluarga, kondisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertanyaan yang harus dijawab melalui pemeriksaan medis dan forensik secara transparan.

Keluarga Mengaku Dilarang Memotret dan Merekam

Kejanggalan lain yang disoroti Ica adalah keterbatasan keluarga untuk mendokumentasikan kondisi jenazah maupun situasi di sekitar proses penanganan kematian WLG.

Ia mengatakan keluarga tidak diperbolehkan mengambil foto ataupun merekam video ketika berada di rumah sakit maupun di rumah keluarga Brigadir IH.

“Setiap kami mau foto tidak dikasih. Setiap mereka berbicara juga kami tidak boleh foto, tidak boleh merekam. Selama kami di rumahnya, selama kami di rumah sakit kemarin, tidak dikasih.”

Kondisi itu, menurut Ica, membuat keluarga semakin sulit memperoleh dokumentasi mengenai kondisi terakhir WLG.

Soal Dugaan Bunuh Diri dengan Senjata Api

Keluarga juga mempertanyakan kesimpulan bahwa WLG meninggal karena bunuh diri menggunakan senjata api.

Ica mempertanyakan bagaimana proses tembakan tersebut terjadi, termasuk mekanisme pemeriksaan terhadap luka kepala dan pengambilan proyektil apabila memang terdapat peluru di dalam tubuh.

“Kalau misalnya ambil peluru itu kan harus dibuka nih tengkoraknya.”

Namun, pertanyaan keluarga tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kematian. Kepastian mengenai mekanisme kematian tetap membutuhkan hasil pemeriksaan forensik, termasuk autopsi, pemeriksaan luka tembak, serta barang bukti terkait.

Keluarga Pertanyakan Desakan Agar Jenazah Segera Dimakamkan

Pertanyaan keluarga juga muncul terkait proses pemakaman.

Ica menyebut keluarga Brigadir IH sempat meminta agar jenazah WLG segera dimakamkan dan tidak dibawa terlebih dahulu ke rumah duka untuk didoakan.

Alasan yang disampaikan, menurut Ica, karena jenazah disebut akan mengalami pembusukan meskipun telah diberi es.

“Mereka bilang tidak bisa. Karena ini akan membusuk, sudah di-es, tidak bisa diformalin.”

Namun keluarga kemudian mempertanyakan hal tersebut kepada pihak rumah sakit dan disebut memperoleh jawaban berbeda.

“Ada keluarga yang menanyakan bagian rumah sakit, ‘Bisa, diformalin.’ Dan sampai sekarang Kakak saya diformalin tidak ada bau busuk.”

Ica mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan keluarga meminta penjelasan lebih terbuka mengenai seluruh proses penanganan jenazah.

WLG Disebut Sedang Berproses Rujuk dengan Brigadir IH

Di balik kematian WLG, terdapat pula fakta mengenai hubungan rumah tangganya dengan Brigadir IH.

Menurut Ica, WLG dan Brigadir IH disebut sedang menjalani proses rujuk setelah sebelumnya bercerai.

Informasi mengenai rujuk tersebut justru pertama kali diterima keluarga dari mantan abang iparnya yang meminta bantuan agar keluarga memberikan dukungan kepada WLG.

“Kami mau rujuk sama Kakak, tolonglah kasih support sama Kakak di rumah. Supaya memikirkan anak-anak untuk kembali.”

Ica menyebut kedua anak WLG dan Brigadir IH menjadi salah satu alasan utama proses rujuk tersebut.

WLG bahkan disebut telah berada di Medan selama sekitar dua bulan sebelum meninggal dunia. Ia dikatakan tinggal bersama kedua anaknya dan mantan suaminya.

Proses rujuk itu, menurut Ica, juga disebut telah diketahui keluarga besar dan dibicarakan dalam kegiatan keagamaan di rumah.

“Inilah anak saya yang selama ini hilang, sudah kembali lagi bersama kita.”

Bahkan, menurut Ica, di gereja juga telah ada pembicaraan bahwa keduanya akan kembali diberkati.

Sebelum Meninggal, WLG Sempat Curhat kepada Adiknya

Di tengah proses rujuk tersebut, WLG disebut masih sempat menceritakan persoalan yang dialaminya kepada Ica.

Salah satunya berkaitan dengan kedua anak mereka. Ica mengatakan WLG merasa sedih setelah mengetahui anak-anaknya diperkenalkan dengan perempuan yang disebut sebagai pacar Brigadir IH.

“Anak-anak bilang, ‘Mami, Abang dibawa kenalan sama cewek Papi.’”

WLG juga disebut mengeluhkan persoalan keuangan. Menurut Ica, kakaknya pernah mengatakan hanya diberi uang Rp10 ribu meski harus mengantar dan menjemput anak-anak.

“Aku juga sedih, aku cuma dikasih uang Rp10 ribu, sedangkan aku disuruh untuk jemput anak-anak. Gak ada bensin.”

Ica juga menyebut WLG sebelumnya pernah bercerita mengenai dugaan kekerasan yang dialaminya dalam hubungan tersebut.

Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci proses perceraian WLG dan Brigadir IH karena keluarga tidak banyak dilibatkan ketika proses tersebut berlangsung.

Keluarga Minta Semua Kejanggalan Dibuka Terang

Bagi keluarga, persoalan utama bukan sekadar menerima atau menolak dugaan bunuh diri.

Mereka mempertanyakan apakah seluruh fakta di lokasi kejadian, kondisi tubuh korban, luka yang ditemukan, senjata api, proyektil, serta rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah kematian telah diperiksa secara utuh.

Keluarga juga meminta agar dugaan penyebab kematian tidak berhenti pada kesimpulan awal sebelum seluruh bukti medis, forensik, balistik dan keterangan para saksi diperiksa secara menyeluruh.

Sebab, sejumlah pertanyaan yang mereka sampaikan hingga kini masih membutuhkan jawaban objektif.

Apakah WLG benar-benar mengakhiri hidupnya sendiri, atau terdapat fakta lain di balik kematiannya?

Pertanyaan itu kini menjadi pekerjaan penting bagi penyidik untuk menjawabnya secara terang, terukur dan berdasarkan bukti—bukan semata berdasarkan asumsi.

Keterangan keluarga tersebut merupakan versi pihak keluarga dan belum dengan sendirinya membuktikan adanya tindak pidana. Kepastian mengenai penyebab dan mekanisme kematian tetap bergantung pada hasil penyelidikan, pemeriksaan forensik, serta alat bukti yang sah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *