MEDAN, SUMATERA UTARA – Jumat (17/07/2026) – Lonjakan harga beras premium mulai mengubah pola konsumsi masyarakat di Kota Medan. Di sejumlah pasar tradisional, warga kini berbondong-bondong membeli beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual lebih murah dibandingkan beras komersial. Tingginya permintaan bahkan membuat penjualan beras SPHP melonjak signifikan dalam sepekan terakhir.
Meski demikian, di balik meningkatnya minat masyarakat terhadap beras subsidi pemerintah tersebut, muncul keluhan dari pedagang terkait kualitas beras SPHP yang dinilai belum konsisten.
Pemilik toko beras di Pasar Sukaramai, Kecamatan Medan Area, Naibaho, mengatakan sejak harga beras premium mengalami kenaikan, sebagian besar konsumennya beralih membeli beras SPHP karena lebih terjangkau.
“Seminggu ini permintaan beras SPHP meningkat tajam. Hampir semua masyarakat mencarinya karena harganya lebih murah,” ujar Naibaho kepada wartawan, Jumat (17/07/2026).
Menurutnya, stok beras di tokonya, baik beras premium maupun beras SPHP, hingga kini masih dalam kondisi aman. Namun, kenaikan harga beras premium membuat daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah, semakin tertekan.
Harga Beras Premium Naik hingga Rp1.000 per Kilogram
Naibaho mengungkapkan harga sejumlah merek beras premium seperti IR, Kuku Balam, dan Ramos mengalami kenaikan berkisar Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram. Kondisi tersebut mendorong masyarakat beralih ke beras SPHP yang dijual sekitar Rp13.000 per kilogram.
Melihat kondisi ekonomi sebagian konsumennya, Naibaho bahkan membuka kemasan beras SPHP ukuran lima kilogram agar dapat dijual secara eceran per kilogram, bahkan setengah kilogram.
“Kasihan masyarakat sekarang. Banyak yang tidak sanggup membeli satu kemasan lima kilogram. Ada yang datang hanya mampu membeli setengah kilogram beras,” katanya.
Menurutnya, sebagian besar pembeli merupakan pekerja harian dengan pendapatan terbatas sehingga hanya mampu membeli kebutuhan pokok sesuai uang yang dimiliki setiap hari.
“Sekarang yang penting mereka bisa makan. Ada yang penghasilannya cuma sekitar Rp30 ribu sehari, jadi belinya sedikit-sedikit,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, penjualan beras SPHP tidak terlalu tinggi. Namun saat ini, sekitar 20 karung beras SPHP dapat habis terjual dalam sehari akibat lonjakan permintaan.
Pedagang Soroti Kualitas Beras SPHP
Di tengah tingginya permintaan, Naibaho mengaku beberapa kali menerima pasokan beras SPHP dengan kualitas yang dinilai kurang baik. Ia menyebut warna beras cenderung lebih gelap dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap.
“Sudah tiga kali kami menerima beras SPHP yang warnanya gelap dan berbau,” ungkapnya.
Menurut Naibaho, kondisi tersebut membuat sebagian konsumen maupun pelaku usaha kuliner memilih mencampur beras SPHP dengan beras lokal atau beras premium agar kualitas nasi tetap terjaga.
Ia menyebut sejumlah pedagang nasi menggunakan perbandingan sekitar dua kilogram beras SPHP dengan tiga kilogram beras lokal, bahkan menambahkan daun pandan saat memasak untuk mengurangi aroma yang muncul dari beras SPHP.
Bulog Pastikan Pasokan Aman Hingga Akhir Tahun
Sementara itu, Perum Bulog Wilayah Sumatera Utara memastikan ketersediaan beras di wilayah Sumut masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengatakan pemerintah telah menambah cadangan beras hingga akhir tahun 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
“Beras maupun minyak goreng sudah tersebar di seluruh wilayah. Sesuai penugasan pemerintah, seluruh stok tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Selain beras SPHP, Bulog Sumut juga memastikan persediaan Minyakita, gula pasir, dan jagung masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat.
Daya Beli Melemah Jadi Alarm Ekonomi
Fenomena meningkatnya penjualan beras SPHP sekaligus menjadi gambaran menurunnya daya beli sebagian masyarakat. Ketika beras premium mulai sulit dijangkau, banyak warga memilih membeli beras subsidi dalam jumlah kecil, bahkan hanya setengah kilogram, agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan harian.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa stabilitas harga bahan pokok tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan dengan harga yang terjangkau. Pemerintah diharapkan terus menjaga stabilitas harga beras sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap kualitas beras SPHP agar tujuan program subsidi benar-benar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.



