SUNGGAL – Di tengah dinamika dunia pendidikan, Yayasan Pendidikan Farhan Syarif Hidayah melakukan langkah strategis dengan membuka Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) perdana pada Jumat (24/4/2026). Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pernyataan sikap atas eksistensi dan komitmen yayasan dalam membangun karakter siswa di luar ruang kelas.
Inklusi di Tengah Komersialisasi: Sekolah Gratis untuk Yatim
Poin paling tajam dalam pembukaan ini adalah penegasan mengenai aksesibilitas pendidikan. Di saat biaya pendidikan seringkali menjadi penghalang, Ketua Majelis Pendidikan, Dr. (C) Dody Arisandy, S.Pd, M.M, Gr, melemparkan komitmen yang krusial: sekolah gratis bagi anak yatim dan piatu.
“Kami tetap berdiri tegak dalam pola pendidikan kerakyatan. Prioritas kami jelas, mereka yang kurang beruntung seperti anak yatim harus tetap bisa sekolah tanpa beban biaya,” tegas Dody.
Langkah ini dinilai sebagai upaya yayasan untuk tidak hanya mengejar aspek akademis, tetapi juga fungsi sosial yang nyata di masyarakat.
Pembenahan Struktur dan Lingkungan Belajar
Dewan Pembina, Prof. Dr. Zainuddin, M.Pd, menekankan bahwa institusi ini tetap berjalan sesuai khitah sebagai lembaga pendidikan formal. Fokus utama saat ini adalah transformasi menjadi “Sekolah yang Dirindukan”—sebuah konsep lingkungan belajar yang nyaman namun tetap memiliki standar keunggulan tinggi.
Dra. Misini, M.Pd.I, selaku Pembina Yayasan, menambahkan bahwa Porseni ini adalah bagian dari “proses pembenahan”. Dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari tokoh akademisi hingga jajaran pemerintah seperti Camat Sunggal dan perwakilan DPD Perindra, yayasan mencoba membangun ekosistem pendidikan yang lebih terbuka dan akuntabel.
Analisis: Menjawab Tantangan Masa Depan
Kehadiran para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam acara ini menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap model pendidikan inklusif cukup tinggi. Tingginya minat orang tua dalam mendaftarkan anak mereka menjadi bukti bahwa ada kebutuhan mendesak akan lembaga pendidikan yang mampu menyeimbangkan kualitas intelektual dengan empati sosial.
Melalui Porseni I ini, Yayasan Farhan Syarif Hidayah mencoba mengirimkan pesan kuat: bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi semua kalangan, tanpa terkecuali.















