Dedikasi Untuk Masyarakat Kota Medan
banner 728x250

Di Taman Budaya, Walikota Rayakan Sastra Lewat Musikalisasi Puisi Kopi dan Kepo

banner 468x60

MEDAN – Kehadiran Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam Festival Musikalisasi Puisi Kopi dan Kepo di Taman Budaya Medan pada Sabtu (2/5/2026), menjadi sinyal kuat keberpihakan Pemerintah Kota (Pemko) Medan terhadap geliat seni dan sastra. Kehadiran orang nomor satu di Pemko Medan tersebut ditegaskan bukan sekadar pemenuhan agenda seremonial belakangan ini, melainkan sebuah penegasan visi bahwa pembangunan kota yang paripurna harus mampu menyentuh ruang rasa, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.

Festival yang digagas oleh komunitas Medan Theater ini mengangkat karya-karya puisi dari buku berjudul “Kopi dan Kepo” buah pengerjaan sastrawan Hasan Al Bana. Acara ini sukses menyedot perhatian ratusan pengunjung yang terdiri dari lintas kalangan, mulai dari seniman senior, akademisi, hingga pelajar. Alunan nada yang berpadu dengan bait-bait sastra menciptakan harmoni yang memukau, mengubah suasana Taman Budaya menjadi panggung apresiasi budaya yang hidup dan energetik.

banner 728x250

Dalam sambutannya yang sarat makna, Rico Waas mengungkapkan bahwa kehadirannya dilandasi oleh rasa “kopi” dan “kepo” yang ia maknai secara filosofis. Menurut Rico, kopi merupakan simbol jeda, ketenangan, serta ruang untuk merenung di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang melelahkan. Sementara itu, kepo dimaknai sebagai dorongan rasa ingin tahu yang positif untuk menggali lebih dalam makna kehidupan. Perpaduan antara rasa dan nalar inilah yang dianggapnya sebagai fondasi penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa.

“Bangsa ini akan kuat jika kebudayaan, intelektual, dan rasa kita terus dijaga. Rasa mencintai, rasa memiliki, dan rasa menelaah kehidupan harus terus hidup,” ujar Rico Waas yang saat itu didampingi oleh Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Laksamana Putra Siregar, serta Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Amsar.

Lebih jauh, Rico juga menyoroti keunikan pola penulisan puisi dalam festival tersebut yang menurutnya memiliki kemiripan dengan pola sastra Melayu. Hal ini baginya adalah bukti kekayaan budaya lokal yang harus terus dikembangkan oleh generasi muda. Ia menegaskan komitmen Pemko Medan untuk terus mendorong para seniman muda agar konsisten berkarya di berbagai bidang, baik itu musik, puisi, lukisan, maupun desain kreatif.

“Membangun kota tidak hanya tentang gedung tinggi, rumah sakit, atau infrastruktur fisik semata. Seni dan budaya adalah elemen penting yang memberikan jiwa dalam kehidupan sebuah kota,” tegas Rico Waas sebelum secara resmi membuka festival tersebut.

Apresiasi tinggi juga diberikan Rico kepada penulis Hasan Al Bana, komunitas Medan Theater, serta seluruh pegiat seni yang telah menjaga denyut nadi budaya di Kota Medan. Sebelumnya, Founder Medan Teater, Ahmad Munawar Lubis, menyampaikan bahwa festival ini adalah perayaan atas “rasa” yang sering terabaikan. Ia menjelaskan bahwa karya yang ditampilkan, termasuk musik dari grup 7 Keliling, merupakan kristalisasi emosi manusia mulai dari keresahan hingga keindahan. Medan Theater sendiri dibangun di atas fondasi kepercayaan untuk mengubah rasa sakit menjadi karya seni yang memukau bagi masyarakat luas.

banner 500x300 Magang Jepang Yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *